Home » Buku Terbitan » Peran Strategis Bayt Al-Mal Wa Al-Tamwil dalam Mengatasi Praktek Rentenir: Studi BMT NU Jawa Timur

Kalender

December 2020
F S S M T W T
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Peran Strategis Bayt Al-Mal Wa Al-Tamwil dalam Mengatasi Praktek Rentenir: Studi BMT NU Jawa Timur

Judul: Peran Strategis Bayt Al-Mal Wa Al-Tamwil dalam Mengatasi Praktek Rentenir: Studi BMT NU Jawa Timur

Penulis: Ahmad Shibghatullah Mujaddidi

Tebal Halaman: xvi + 224

Ukuran Buku: 14,5 cm x 20,5 cm

No. ISBN: 978-602-50515-6-2

 

TENTANG PENULIS

Nama: Ahmad Shibghatullah Mujaddidi

Alamat: Sumenep, Madura, Jawa Timur

Email: loura1304blue@gmail.com

 

SEKILAS TENTANG BUKU

Salah satu pihak yang mempunyai posisi strategis dalam pemberdayaan usaha skala mikro adalah lembaga keuangan mikro. Di Indonesia, salah satu model praktek keuangan mikro yang fenomenal dan berkembang pesat adalah bayt al-mal wa al-Tamwil atau disingkat dengan BMT. BMT merupakan lembaga keuangan mikro yang dioperasikan berdasarkan prinsip-prinsip syariah Islam. Secara istilah BMT adalah lembaga keuangan mikro yang berprinsip syariah yang berlandaskan hukum koperasi baik Koperasi Serba Usaha (KSU) maupun Koperasi Simpan Pinjam Syariah (KSPS). Salah satu peran penting koperasi (BMT) adalah melepaskan ketergantungan pada rentenir. Masyarakat yang masih tergantung rentenir disebabkan rentenir mampu memenuhi keinginan masyarakat dengan segera. Dalam faktanya, secara sadar atau tidak, masyarakat awam banyak yang terjerat oleh praktik rentenir. Akibatnya, ekonomi mereka bukannya semakin tumbuh, tapi justru sebaliknya semakin anjlok. Praktik rentenir di satu sisi memang bisa menyelesaikan keuangan masyarakat secara instan, namun di sisi lain justru mencekik mereka dalam waktu yang berkepanjangan.

Sumenep merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang wilayahnya mayoritas adalah pedesaan, itu menjadi lahan empuk bagi para rentenir untuk berkembang dan menawarkan jasanya kepada masyarakat. BMT NU Jawa Timur yang berdiri pada tahun 2004 (dan dikatakan sebagai BMT termuda di Sumenep tetapi meraih banyak penghargaan) diharapkan mampu menjadi solusi untuk membebaskan masyarakat dari cekikan rentenir. Untuk itu, buku ini menjadi sangat menarik dalam membedah tentang bagaimana cara BMT NU menjalankan peranannya dalam proses perberdayaan masyarakat, sekaligus mengeliminir peran rentenir di kalangan masyarakat pedesaan. Selain itu juga, Sumenep merupakan salah satu kabupaten yang banyak berdiri pondok pesantren, namun ternyata belum cukup menjamin untuk menghindarkan masyarakat dari jeratan rentenir.

%d bloggers like this: