Home » Buku Terbitan » Epistemologi Balagah: Studi atas Miftāh al-‘Ulūm Karya al-Sakaki

Kalender

December 2020
F S S M T W T
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Epistemologi Balagah: Studi atas Miftāh al-‘Ulūm Karya al-Sakaki

Penulis: Daud Lintang Al-Yamin, S.S.I, M.A

Tebal Halaman: xx + 264

Ukuran Buku: 14,5 cm x 20,5 cm

No. ISBN: 978-602-50515-8-6

 

TENTANG PENULIS

Nama: Daud Lintang Al-Yamin, S.S.I, M.A

Alamat: Pakantan, Mandailing Natal, Sumatera Utara

Email: d_ltng@yahoo.co.id

 

SEKILAS TENTANG BUKU

Keahlian dalam menulis sudah sejak lama menjadi unsur utama peradaban manusia yang membutuhkan kepada proses pengasahan dan pelatihan logika yang tekun. Selain itu, dibutuhkan teori penulisan yang tepat, baik itu sumber keilmuan, batasan-batasan, metodologi bahkan validitasnya. Kesadaran akan pentingnya menulis berdasarkan teori mutlak tersebut sama seperti kepedulian penulisnya terhadap diri sendiri, lingkungan sosial bahkan negaranya.

Epistemologi Miftāḥ al-Ulūm karya Al-Sakaki tidak sedikit mendapatkan apresiasi besar daripada linguis kontemporer seperti Syawqi Dhaif, Al-Suyuti dan Al-Qazwaini. Namun, demikian juga tidak terlepas dari gelombang pro dan kontra terhadap teori keilmuan yang disajikan di dalamnya. Tampak epistemologi yang dibangun oleh Al-Sakaki dalam proses kepengarangan karya Miftāḥ al-Ulūm sangat di dominasi oleh cara berpikir yang empirik dan rasional dibanding cara berpikir intuitif yang menjadi tujuan utama ilmu balagah untuk sampai kepada style wisdom dan nuansa bahasa yang eskafistis.

Munculnya dualisme pandangan para ahli terhadap Miftāḥ al-Ulūm hingga kehadiran karya baru berjudul Talkhīs Miftāḥ al-Ulūm, sebenarnya tidak menghilangkan konsep dasar yang telah dibangun oleh Al-Sakaki. Konsep dasar dari proses kepengaranngannya tetap seperti pada kesimpulan yang diharapkan oleh Al-Sakaki. Tetapi demi kemashlahatan dan kesempurnaan sebuah karya ilmiah yang sangat besar, substansi penulisan karya ilmiah ini perlu diketahui epistemologi apa saja yang digunakan oleh Al-Sakaki selama proses penulisannya. Hal tersebut sesuai dengan rekomendasi Tamman Hassan untuk meninjau ulang teori yang dibangun di dalamnya dengan harapan language teoritic ­dan language sense di dalamnya menjadi lebih seimbang dan tampak berseni, sehingga tidak cenderung metodik.

Buku ini sangat menarik untuk dibaca bagi siapapun yang tertarik dengan persoalan sastra kaitannya dengan ilmu filsafat dan persoalan nilai-nilai moral semangat para linguis memikirkan keberlanjutan peradaban Islam di masa depan.

%d bloggers like this: