Home » Buku Terbitan » Konsepsi Takwil dalam Doktrin Teologi Abu Mansur Al-Maturidi: Studi Atas Kitab Ta’wilat Ahl al-Sunnah

Kalender

December 2020
F S S M T W T
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Konsepsi Takwil dalam Doktrin Teologi Abu Mansur Al-Maturidi: Studi Atas Kitab Ta’wilat Ahl al-Sunnah

Judul: Konsepsi Takwil dalam Doktrin  Teologi Abu Mansur Al-Maturidi: Studi Atas Kitab Ta’wilat Ahl al-Sunnah

Penulis: Izzatu Tazkiyah

Tebal Halaman: xviii + 264

Ukuran Buku: 14,5 cm x 20,5 cm

No. ISBN: 978-602-1349-37-3

 

TENTANG PENULIS

Nama: Izzatu Tazkiyah

Alamat: Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

Email: mudaberkarya21@gmail.com

 

SEKILAS TENTANG BUKU

Kehadiran teks al-Qur’an di tengah masyarakat Muslim mampu melahirkan wacana keislaman yang tak kunjung padam, bahkan lingkup geraknya semakin berkembang. Meminjam bahasa Komarudin Hidayat lingkup gerak tersebut diistilahkan sebagai gerak sentrifugal dan sentripetal. Padahal tidak dijumpai teks-teks keagamaan manapun kecuali teks al-Qur’an yang memiliki daya minat tinggi bagi para pengkaji. Terlebih sekian madzhab yang ada dan perbedaan pendapat mengenai keislaman mampu terbendung karena masing-masing memiliki wadah dan pembenaran dari al-Qur’an.

Melalui buku ini penulis membuktikan bahwa konsepsi takwil yang dikonstruk al-Maturidi dalam tafsirnya (secara umum) nampak begitu longgar. Artinya bahwa varian makna yang dihadirkan tersebut menunjukan bahwa al-Maturidi tidak memperlakukan teks secara kaku sehingga mampu memberikan kelonggaran makna secara obyektif. Hanya saja, objektivitas makna tersebut terkadang tereduksi oleh pandangan-pandangan teologisnya yang nampak subyektif. Di satu sisi dengan bias ideologisnya tersebut, al-Maturidi mampu meredam paham-paham yang dinilai berseberangan dengan ajaran Islam, tetapi di saat yang bersamaan menunjukan bahwa al-Maturidi berusaha membasiskan doktrin teologi Sunni.

Buku ini menjadi sangat menarik hadir di tengah masyarakat dengan beberapa alasan, diantaranya: pertama, dalam konteks Indonesia, oleh karena mayoritas penganut teologi Sunni-Ash’ari, wacana teologi al-Maturidi cenderung dikesampingkan. Kedua, dalam batas-batas tertentu penakwilan al-Maturidi boleh jadi dinilai liberal pada masanya, lantaran keragaman makna yang ditawarkan berbeda dengan kaum Salaf pada umumnya. Ketiga, kajian akademik terhadap karya tafsir ini masih sangat minim. Hal ini dikarenakan al-Maturidi lebih dikenal sebagai teolog dibanding mufassir. Penelitian atas tafsir al-Maturidi ini diharapkan mampu memberikan khazanah keilmuan Islam sekaligus pencerahan bagi masyarakat muslim khususnya di Indonesia.

%d bloggers like this: