Home » Buku Terbitan » Maqasid Al-Quran dalam Pemikiran Yusuf Al-Qaradawi

Kalender

September 2020
F S S M T W T
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Maqasid Al-Quran dalam Pemikiran Yusuf Al-Qaradawi

Penulis: Dr. Muhammad Sholeh Hasan

Tebal Halaman: xiv + 422

Ukuran Buku: 15 cm x 22 cm

No. ISBN: 978-602-5668-08-1

 

TENTANG PENULIS

Nama: Dr. Muhammad Sholeh Hasan

Alamat: Tangerang

Email: sholeh.hasan@uinjkt.ac.id

 

SEKILAS TENTANG BUKU

Al-Quran memperkenalkan dirinya sebagai petunjuk untuk seluruh manusia, dan ditegaskan pula sebagai kitab suci diturunkan untuk memberi putusan (jalan keluar) terbaik bagi problem-problem kehidupan manusia. Akan tetapi, ada beberapa fenomena sejarah yang berperan menghilangkan fungsi utama al-Quran ini: 1). Bercampurnya israiliyat dalam penafsiran al-Quran. 2). al-Quran dijadikan sebagai alat pendukung/ fanatik dalam bidang teologi, aliran fiqih dan aliran filsafat. Menurut Yusuf al-Qaradawi akibat dari fenomena fanatik kepada salah satu aliran tersebut muncul beberapa fenomena kesalahan dalam menangkap pesan utama/Maqasid al-Quran. Untuk menyikapi beberapa kesalahan dalam menangkap Maqasid al-Quran yang sesuai dengan pesan utama al-Quran  di era modern ini muncul tiga aliran pemikiran, yaitu aliran Islam Tradisional; aliran Islam Sekuler; dan aliran Islam Reformis Moderat.

Sejak abad 19 M muncul pemikir-pemikir muslim dan non muslim yang datang dari pendidikan Timur dan Barat. Mereka semua mengaku sebagai pemikir muslim reformis moderat dan berusaha menangkap pesan al-Quran dengan berbagai pendekatan sehingga melahirkan ide-ide baru yang belum pernah dikenal masa sebelumnya. Karena pijakan dan hasil penafsiran mereka berbeda-beda maka terjadilah ragam pemikiran yang menarik untuk diteliti. Salah satu tokoh muslim modern yang menulis tentang Maqasid al-Quran adalah Yusuf al-Qaradawi. Metode yang dikembangkan dengan membagi kepada dua Maqasid, pertama Maqasid Kulliyat dan kedua Maqasid Juziyyat. Dua pembagian Maqasid al-Quran  ini berakhir kepada tujuan kemaslahatan/al-Islah individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Metode pengembangan kemas}lahatan ini harus memperhatikan keseimbangan/al-tawazun dan saling melengkapi/al-Takamul. Diantara keseimbangan yang harus diperhatikan adalah pertama, keseimbangan antara ilmu dan iman. Kedua, antara peran wahyu dan ijtihad manusia. Ketiga, antara pesan wahyu yang datang dari Tuhan dan pesan yang dihasilkan hasil musyawarah manusia. Unsur-unsur inilah yang menjadi fokus utama Yusuf al-Qaradawi dalam menggali pesan al-Quran. Hal ini dilakukan karena pemahaman masyarakat muslim yang dihadapi oleh Yusuf al-Qaradawi mengalami penyimpangan seperti bersikap Jabariyah dalam bidang akidah; lebih mendahulukan penampilan fisik dalam bidang ibadah; bersikap menyimpang dalam bidang moral; menyimpang dalam menafsirkan al-Quran; memahami nas al-Quran dan Hadits terjebak kepada makna zahir nas dan melalaikan Maqasid  al-Syari’ah; dan yang terakhir terjebak kepada metode demontrasi yang ingin cepat meraih hasil dan melupakan proses bertahap dalam mengejar keberhasilan.

Oleh karena itu, buku ini penting untuk hadir di hadapan sidang pembaca untuk membedah pemikiran Yusuf al-Qaradawi dalam menangkap Maqasid al-Quran yang sesuai dengan pesan utama al-Quran  di era modern ini.